Senin, 21 Februari 2011
Mr imam and Miss ninis,
12 High Road
Sometown
AA1 2BB
Dear imam and ninis,
Congratulations on your forthcoming wedding, I write to send you my very best wishes for your wedding day and for your future together. I am so pleased to hear of your wedding announcement, I know that you two were made for each other and fit together like two peas in a pod.
I came across this wonderful little poem by Karl Fuchs that I wanted to share with you.
Congratulations on your marriage,
Have a wonderful life!
You are two terrific people,
Now teamed as man and wife.
A team with blessings like yours
Will live a life you'll cherish;
You’ll find happiness everywhere,
For your love will never perish
Thank you for your invitation to the wedding, I am please to let you know that George and I will be attending the wedding. We are both looking forward to sharing your big day and celebrating this most happy time in both of your lives.
Sending you our very best wishes for your wedding day and for your future together.
Your friend always,
Tari
Tugas Bahasa Inggris bisnis 2...
Hal. 97-98 Exercise 21 :
1. Under Stood
2. Become
3. Give
4. Told
5. Become
6. Had
7. Stopped
8. Needed
9. Found
10. Enjoyed
11. Painted
12. Were
13. Write
14. Permited
15. Spent
16. Aceepted
17. Bought
18. Decided
19. Wrote
20. Leaked
21. Studied
22. heard
23. See
24. Get
25. Furned
26. Was
27. Called
28. Talked
29. Explained
30. Spoke
Hal. 107 exercise 26 :
1. Well 6.Smooth
2. Intense 7.Accuratelly
3. Brightly 8.Bitterly
4. Fluently 9.Soon
5. Fluently 10.Fastly
Hal. 109 Exercise 27 :
1. Terrible 6. Quikcly
2. Good 7. Diligently
3. Good 8. Vehemently
4. Calm 9. Relaxed
5. Sick 10.Noisily
Hal. 114 Exercise 28 :
1. As soon 6. More talented
2. More Important 7. More colorful
3. Aswell 8. Happier
4. More expensive 9. Bad worse
5. Hotter 10.More faster
Hal. 114 Exercise 29 :
1. Than 6. Than
2. As 7. As
3. From 8. Than
4. Than 9. Than
5. As 10.From
Hal. 117 Exercise 30 :
1. Better 6. Better
2. Happiest 7. Good
3. Faster 8. More awkwardly
4. Creamiest 9. Least
5. More colorful 10.Prettier
Hal. 202 Exercise 54 :
1. Angel 11.Latter
2. You’re 12.Than
3. Sight 13.Loose
4. Who’s 14.Stationery
5. Costume 15.Passed
6. Whether 16.Quit
7. Descent 17.Peace
8. To 18.Principle
9. Dessert 19.Quite
10. They’re 20.Cite
Hal. 214 Exercise 56 :
1. At 36.In 72.Course
2. On 37.At 73.At
3. At 38.In 74.Of
4. On 39.At 75.In
5. In 40.In 76.On
6. At 41.On 77.Of
7. From 42.At 78.At
8. Out of 43.In
9. At 44.In
10. In 45.At
11. Out of 46.On
12. At 47.On
13. On 48.At
14. In 49.In
15. Out of 50.At
16. At 51.In
17. On 52.At Present
18. At 54.On
19. In 55.Right
20. At 56.At
21. Present 57.In
22. In 58.In
23. In 59.On
24. At 60.At
25. On 61.At
26. In 62.On
27. At 63.At
28. At 64.At
29. In 65.At
30. At 66.In
31. In 67.At
32. At 68.In
33. In 69.Of
34. At 70.At
35. At 71.Of
Kamis, 06 Januari 2011
Melanggar Etika Bisnis
A. Contoh Pelanggaran dalam Praktek
Sebuah perusahaan X karena kondisi perusahaan yang pailit akhirnya memutuskan untuk
melakukan PHK kepada karyawannya. Namun dalam melakukan PHK itu, perusahaan
sama sekali tidak memberikan pesongan sebagaimana yang diatur dalam UU No. 13/2003
tentang Ketenagakerjaan. Dalam kasus ini perusahaan x dapat dikatakan melanggar
prinsip kepatuhan terhadap hukum.
B. Contoh Pelanggaran dalam Praktek
Sebuah Yayasan X menyelenggarakan pendidikan setingkat SMA. Pada tahun ajaran
baru sekolah mengenakan biaya sebesar Rp 500.000,- kepada setiap siswa baru. Pungutan
sekolah ini sama sekali tidak diinformasikan kepada mereka saat akan mendaftar,
sehingga setelah diterima mau tidak mau mereka harus membayar. Disamping itu tidak
ada informasi maupun penjelasan resmi tentang penggunaan uang itu kepada wali murid.
Setelah didesak oleh banyak pihak, Yayasan baru memberikan informasi bahwa uang itu
dipergunakan untuk pembelian seragama guru. Dalam kasus ini, pihak Yayasan dan
sekolah dapat dikategorikan melanggar prinsip transparansi
C. Contoh Pelanggaran dalam Praktek
Sebuah RS Swasta melalui pihak Pengurus mengumumkan kepada seluruh karyawan
yang akan mendaftar PNS secara otomotais dinyatakan mengundurkan diri. A sebagai
salah seorang karyawan di RS Swasta itu mengabaikan pengumuman dari pihak pengurus
karena menurut pendapatnya ia diangkat oleh Pengelola dalam hal ini direktur, sehingga
segala hak dan kewajiban dia berhubungan dengan Pengelola bukan Pengurus. Pihak
Pengelola sendiri tidak memberikan surat edaran resmi mengenai kebijakan tersebut.
Karena sikapnya itu, A akhirnya dinyatakan mengundurkan diri. Dari kasus ini RS
Swasta itu dapat dikatakan melanggar prinsip akuntabilitas karena tidak ada kejelasan
fungsi, pelaksanaan dan pertanggungjawaban antara Pengelola dan Pengurus Rumah
Sakit
sumber : http://www.los-diy.or.id/artikel/Losdiy-Contoh%20Pelanggaran%20Etika%20Bisnis.pdf
Tanggung jawab sosial Perusahaan
CSR berhubungan erat dengan "pembangunan berkelanjutan", di mana ada argumentasi bahwa suatu perusahaan dalam melaksanakan aktivitasnya harus mendasarkan keputusannya tidak semata berdasarkan faktor keuangan, misalnya keuntungan atau deviden melainkan juga harus berdasarkan konsekuensi sosial dan lingkungan untuk saat ini maupun untuk jangka panjang.
Pemikiran yang mendasari CSR (corporate social responsibility) yang sering dianggap inti dari Etika Bisnis adalah bahwa perusahaan tidak hanya mempunyai kewajiban-kewajiban ekonomis dan legal (artinya kepada pemegang saham atau shareholder) tapi juga kewajiban-kewajiban terhadap pihak-pihak lain yang berkepentingan (stakeholders) yang jangkauannya melebihi kewajiban-kewajiban di atas. Beberapa hal yang termasuk dalam CSR ini antara lain adalah tatalaksana perusahaan (corporate governance) yang sekarang sedang marak di Indonesia, kesadaran perusahaan akan lingkungan, kondisi tempat kerja dan standar bagi karyawan, hubungan perusahan-masyarakat, investasi sosial perusahaan (corporate philantrophy).
Ada berbagai penafsiran tentang CSR dalam kaitan aktivitas atau perilaku suatu perusahaan, namun yang paling banyak diterima saat ini adalah pendapat bahwa yang disebut CSR adalah yang sifatnya melebihi (beyond) laba, melebihi hal-hal yang diharuskan peraturan dan melebihi sekedar public relations.Hasil Survey “The Millenium Poll on CSR” (1999) yang dilakukan oleh Environics International (Toronto), Conference Board (New York) dan Prince of Wales Business Leader Forum (London) diantara 25.000 responden di 23 negara menunjukkan bahwa dalam membentuk opini tentang perusahaan, 60% mengatakan bahwa etika bisnis, praktek terhadap karyawan, dampak terhadap lingkungan, tanggungjawab sosial perusahaan (CSR) akan paling berperan, sedangkan bagi 40% citra perusahaan & brand image yang akan paling mempengaruhi kesan mereka. Hanya 1/3 yang mendasari opininya atas faktor-faktor bisnis fundamental seperti faktor finansial, ukuran perusahaan,strategi perusahaan, atau manajemen.Lebih lanjut, sikap konsumen terhadap perusahaan yang dinilai tidak melakukan CSR adalah ingin “menghukum” (40%) dan 50% tidak akan membeli produk dari perusahaan yang bersangkutan dan/atau bicara kepada orang lain tentang kekurangan perusahaan tersebut.CSR yang baik (good CSR) memadukan empat prinsip good corporate governance, yakni fairness, transparency, accountability, dan responsibility, secara harmonis. Ada perbedaan mendasar di antara keempat prinsip tersebut (Supomo, 2004). Tiga prinsip pertama cenderung bersifat shareholders-driven karena lebih memerhatikan kepentingan pemegang saham perusahaan. Sebagai contoh, fairness bisa berupa perlakuan yang adil terhadap pemegang saham minoritas; transparency menunjuk pada penyajian laporan keuangan yang akurat dan tepat waktu; sedangkan accountability diwujudkan dalam bentuk fungsi dan kewenangan RUPS, komisaris, dan direksi yang harus dipertanggung jawabkan.
Sementara itu, prinsip responsibility lebih mencerminkan stakeholders-driven karena lebih mengutamakan pihak-pihak yang berkepentingan terhadap eksistensi perusahaan. Stakeholders perusahaan bisa mencakup karyawan beserta keluarganya, pelanggan, pemasok, komunitas setempat, dan masyarakat luas, termasuk pemerintah selaku regulator. Di sini, perusahaan bukan saja dituntut mampu menciptakan nilai tambah (value added) produk dan jasa bagi stakeholders perusahaan, melainkan pula harus sanggup memelihara kesinambungan nilai tambah yang diciptakannya itu (Supomo, 2004). Namun demikian, prinsip good corporate governance jangan diartikan secara sempit. Artinya, tidak sekadar mengedepankan kredo beneficience (do good principle), melainkan pula nonmaleficience (do no-harm principle) (Nugroho, 2006). Perusahaan yang hanya mengedepankan benificience cenderung merasa telah melakukan CSR dengan baik. Misalnya, karena telah memberikan beasiswa atau sunatan massal gratis. Padahal, tanpa sadar dan pada saat yang sama, perusahaan tersebut telah membuat masyarakat semakin bodoh dan berperilaku konsumtif, umpamanya, dengan iklan dan produknya yang melanggar nonmaleficience.
Senin, 01 November 2010
Bisnis Beretika
Epistemologi Etika Bisnis
Menurut Kamus Inggris Indonesia Oleh Echols and Shadily (1992: 219),
Moral = moral, akhlak, susila (su=baik, sila=dasar, susila=dasar-dasar kebaikan);
Moralitas = kesusilaan; Sedangkan Etik (Ethics) = etika, tata susila. Sedangkan
secara etika (ethical) diartikan pantas, layak, beradab, susila. Jadi kata moral dan
etika penggunaannya sering dipertukarkan dan disinonimkan, yang sebenarnya
memiliki makna dan arti berbeda. Moral dilandasi oleh etika, sehingga orang yang
memiliki moral pasti dilandasi oleh etika. Demikian pula perusahaan yang memiliki
etika bisnis pasti manajernya dan segenap karyawan memiliki moral yang baik.
Uno (2004) membedakan pengertian etika dengan etiket. Etiket (sopan
santun) berasal dari bahasa Prancis etiquette yang berarti tata cara pergaulan yang
baik antara sesama menusia. Sementara itu etika, berasal dari bahasa Latin, berarti
falsafah moral dan merupakan cara hidup yang benar dilihat dari sudut budaya,
susila, dan agama.
Jika kata etika dikaitkan dengan kata bisnis akan menjadi Etika Binis
(business ethics). Steade et al (1984: 701) dalam bukunya ”Business, Its Natura and
Environment An Introduction” memberi batasan yakni, ”business ethics is ethical
standards that concern both the ends and means of business decision making”.
Definisi etika bisnis menurut Business & Society - Ethics and Stakeholder
Management (Caroll & Buchholtz, ?: dalam Iman, 2006):
Ethics is the discipline that deals with what is good and bad and with moral duty and
obligation. Ethics can also be regarded as a set of moral principles or values.
Morality is a doctrine or system of moral conduct. Moral conduct refers to that which
relates to principles of right and wrong in behavior. Business ethics, therefore, is
concerned with good and bad or right and wrong behavior that takes place within a
business context. Concepts of right and wrong are increasingly being interpreted
6 today to include the more difficult and subtle questions of fairness, justice, and
equity.
Sumber : http://ejournal.unud.ac.id/abstrak/%2812%29%20soca-anderson-etika%20bisnis%281%29.pdf
Bisnis Tidak Beretika
A. Contoh Pelanggaran dalam Praktek
Sebuah perusahaan X karena kondisi perusahaan yang pailit akhirnya memutuskan untuk
melakukan PHK kepada karyawannya. Namun dalam melakukan PHK itu, perusahaan
sama sekali tidak memberikan pesongan sebagaimana yang diatur dalam UU No. 13/2003
tentang Ketenagakerjaan. Dalam kasus ini perusahaan x dapat dikatakan melanggar
prinsip kepatuhan terhadap hukum.
B. Contoh Pelanggaran dalam Praktek
Sebuah Yayasan X menyelenggarakan pendidikan setingkat SMA. Pada tahun ajaran
baru sekolah mengenakan biaya sebesar Rp 500.000,- kepada setiap siswa baru. Pungutan
sekolah ini sama sekali tidak diinformasikan kepada mereka saat akan mendaftar,
sehingga setelah diterima mau tidak mau mereka harus membayar. Disamping itu tidak
ada informasi maupun penjelasan resmi tentang penggunaan uang itu kepada wali murid.
Setelah didesak oleh banyak pihak, Yayasan baru memberikan informasi bahwa uang itu
dipergunakan untuk pembelian seragama guru. Dalam kasus ini, pihak Yayasan dan
sekolah dapat dikategorikan melanggar prinsip transparansi
C. Contoh Pelanggaran dalam Praktek
Sebuah RS Swasta melalui pihak Pengurus mengumumkan kepada seluruh karyawan
yang akan mendaftar PNS secara otomotais dinyatakan mengundurkan diri. A sebagai
salah seorang karyawan di RS Swasta itu mengabaikan pengumuman dari pihak pengurus
karena menurut pendapatnya ia diangkat oleh Pengelola dalam hal ini direktur, sehingga
segala hak dan kewajiban dia berhubungan dengan Pengelola bukan Pengurus. Pihak
Pengelola sendiri tidak memberikan surat edaran resmi mengenai kebijakan tersebut.
Karena sikapnya itu, A akhirnya dinyatakan mengundurkan diri. Dari kasus ini RS
Swasta itu dapat dikatakan melanggar prinsip akuntabilitas karena tidak ada kejelasan
fungsi, pelaksanaan dan pertanggungjawaban antara Pengelola dan Pengurus Rumah
Sakit
http://www.los-diy.or.id/artikel/Losdiy-Contoh%20Pelanggaran%20Etika%20Bisnis.pdf
Pengertian Etika Bisnis
adalah pedoman moral tentang mana yang benar dan mana yang salah dalam dunia bisnis
dalam dunia sehari-hari sering dihadapkan dengan persoalan tersebut, yang benar = putih , dan yang salah = hitam, dalam pelaksanaannya ada yang muncul grey area.
Etika bisnis merupakan studi yang dikhususkan mengenai moral yang benar dan salah. Studi ini berkonsentrasi pada standar moral sebagaimana diterapkan dalam kebijakan, institusi, dan perilaku bisnis (Velasquez, 2005).
Dalam menciptakan etika bisnis, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain adalah:
1. Pengendalian diri
2. Pengembangan tanggung jawab social (social responsibility)
3. Mempertahankan jati diri dan tidak mudah untuk terombang-ambing oleh pesatnya perkembangan informasi dan teknologi
4. Menciptakan persaingan yang sehat
5. Menerapkan konsep “pembangunan berkelanjutan”
6. Menghindari sifat 5K (Katabelece, Kongkalikong, Koneksi, Kolusi, dan Komisi)
7. Mampu menyatakan yang benar itu benar
8. Menumbuhkan sikap saling percaya antara golongan pengusaha kuat dan golongan pengusaha ke bawah
9. Konsekuen dan konsisten dengan aturan main yang telah disepakati bersama
10. Menumbuhkembangkan kesadaran dan rasa memiliki terhadap apa yang telah disepakati
11. Perlu adanya sebagian etika bisnis yang dituangkan dalam suatu hokum positif yang berupa peraturan perundang-undangan
SUMBER :
http://noer-site.web.id/index.php?option=com_content&view=article&id=49:etika&catid=36:generalaccounting&Itemid=53
http://galih-chess.blogspot.com/2010/01/pengertian-etika-bisnis.html
Minggu, 03 Oktober 2010
TUGAS RISET PEMASARAN
Nama :Yekti Lestari
Npm :11207186
Kelas :4EA03
1. Tema/Topik : Marketing Mix/Bauran Pemasaran
2. Judul, Pengarang, & Tahun
Judul : Pengaruh Bauran Pemasaran Jasa terhadap Keputusan Pembelian Konsumen pada Restoran Cepat Saji (fast food) McDonald's Malang
Nama : Elly Fibrianty
Tahun : 2009
Judul : Pengaruh BauranPromosi Terhadap Keputusan Pembelian Produk Makanan (Studi Kasus pada Mie Jogja Pak Karso di Malang)
Nama : Putri Pramesti
Tahun : 2008
Judul : Pengaruh Bauran Promosi terhadap Keputusan Konsumen dalam Membeli Sepeda Motor Honda (Studi Pada Dealer Marga Kartika Motor Wlingi)
Nama : Evi fachrida
Tahun : 2007
3. Latar Belakang :
Perkembangan usaha saat ini maju dengan pesat. Persaingan usaha pun juga semakin ketat. Pelaku usaha dituntut harus berusaha lebih keras dan cermat dalam menghadapi pesaing. Pelaku usaha harus menggunakan strategi yang tepat agar dapat bertahan di pasar. Salah satu strategi yang digunakan adalah bauran promosi. Pada situasi seperti ini peran pamasaran sangat penting bagi perusahaan untuk kelangsungan hidup perusahaan. Dalam konsep pemasaran, perusahaan tidak cukup hanya dengan memproduksi barang dan jasa yang berkualitas dan bermutu tetapi hal penting yang harus dilakukan perusahaan adalah bagaimana mengkomunikasikan produknya agar diketahui dan menarik minat konsumen untuk membelinya. Salah satu strategi yang digunakan adalah bauran promosi. Mie Jogja Pak Karso di Malang menggunakan bauran promosi yang meliputi periklanan, promosi penjualan, penjualan perseorangan, hubungan masyarakat, dan pemasaran langsung.
4. Metodelogi
a. Data atau Variabel
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh bauran promosi, yang terdiri dari periklanan, promosi penjualan, penjualan perseorangan, hubungan masyrakat, dan pemasaran langsung terhadap keputusan pembelian.
b. Model
Elly Fibrianty : Bauran Pemasaran Jasa, Keputusan Pembelian Konsumen
Harga
Promosi
Putri Pramesti: bauran promosi, keputusan pembelian
Produk
Promosi
Evi fachrida : Bauran Promosi, Keputusan Pembelian
Harga
Promosi
5. Hasil & Kesimpulan
Hasil & Kesimpulan Jurnal 1 : Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa produk, harga, tempat, promosi, orang, dan proses berpengaruh positif tidak signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen dan bukti fisik berpengaruh positif signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen. Secara simultan produk, harga, tempat, promosi, orang, proses, dan bukti fisik berpengaruh positif signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen. Sedangkan variabel yang paling dominan berpengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen adalah variabel bukti fisik.
Hasil & Kesimpulan Jurnal 2 : Berdasarkan hasil penelitian tersebut, empat elemen bauran promosi yang terdiri dari periklanan, promosi penjualan, penjualan perseorangan, dan pemasaran langsung berpengaruh positif yang signifikan terhadap keputusan pembelian. Sedangkan satu elemen, yaitu hubungan masyarakat berpengaruh negatif yang signifikan terhadap keputusan pembelian. Sehingga semua elemen bauran promosi dalam penelitian ini berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian baik secara parsial maupun simultan. Bauran promosi yang paling dominan dalam penelitian ini adalah penjualan perseorangan.
Hasil & Kesimpulan Jurnal 3 : Berdasarkan hasil penelitian diatas dapat disimpulkan hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini yaitu ada pengaruh yang signifikan antara bauran promosi baik secara simultan terhadap keputusan pembelian dinyatakan telah dan dapat dibuktikan.
Hasil & Kesimpulan peneliti : Secara keseluruhan bauran promosi atau marketing mix seperti, harga, produk, promosi dan distribusi berpengaruh terhadap keputusan pembeian.
6. Saran untuk lanjutan
Periklanan merupakan faktor paling dominan yang mempengaruhi keputusan pembelian konsumen. Sehingga perusahaan harus tetap mempertahankan dan Meningkatkan kegiatan tersebut karena periklanan merupakan alat yang efektif untuk mendongkrak penjualan. Untuk mendukung keberhasilan kegiatan personal selling lebih ditingkatkan kualitas layanan tenaga penjual dengan memberikan pengetahuan lewat pelatihan karyawan agar lebih terampil, mahir berkomunikasi, kepribadian menarik sehingga mampu melayani daya tarik konsumen. Mengadakan kegiatan bersama seperti touring dengan klub-klub sepeda motor Honda dan mengadakan bakti sosial. Hal ini akan lebih mempererat hubungan antara perusahaan dengan konsumennya. Perlu adanya koran dan majalah bagi pelanggan agar saat antrian panjang, sehingga mengurangi rasa kebosanan.